Alkisah di sebuah desa terpencil, ada seseorang yang biasa dipanggil Dokter Muhidin. Dia satu-satunya dokter yang ada di kampung itu. Namanya terkenal di seluruh penjuru kampung, anak-anak, orang tua, laki-laki, perempuan, semuanya. Selain namanya, kemanjuran obatnya pun terkenal di kampung itu.

Karena dia adalah satu-satunya dokter di kampung itu, dia mematok harga yang lumayan untuk setiap konsultasi. Tapi warga kampung tersebut tidak keberatan untuk membayarnya. Bahkan sebagian warga rela mencuri untuk berobat ke dokter Muhidin. Dari hasil buka klinik tersebut, dokter Muhidin berhasil menjadi orang terkaya di kampung itu. Klinik nya pun semakin laku dan banyak orang ingin bekerja padanya. Bukan hanya itu, semua anggota keluarga dokter Muhidin beserta para pegawainya pernah menunaikan ibadah haji.

Sampai suatu hari, seorang gadis di kampung tersebut menikah dengan seorang dokter yang baru saja lulus dari pendidikan dokternya. Dokter Sulam namanya. Beberapa bulan tinggal di kampung tersebut, dokter Sulam mempunyai inisiatif untuk membuka klinik sederhana. Berbeda dengan dokter Muhidin, dokter Sulam tidak mematok harga, banyak warga yang berobat pada dokter Sulam tanpa membayar sepeser pun.

Tentu saja hal tersebut membuat dokter Muhidin geram. Sebagian pasien yang biasanya berobat ke kliniknya, kini mulai beralih ke dokter Sulam. Apalagi setelah dia tau sebagian orang mulai menyisihkan sedikit rezeki mereka untuk berbagi dengan dokter Sulam. Dokter Muhidin tidak mau tinggal diam, dia mulai mencoba mencari cara agar para pasien yang sudah beralih ke dokter Sulam kembali ke kliniknya.

Bukan hanya dokter Muhidin, ada juga orang lain yang tidak suka pada dokter Sulam. Ada yang bilang sok baik lah, ada yang bilang obatnya ga berkualitas lah, ada juga yang bilang kalau dokter Sulam tidak punya kerjaan, termasuk mertuanya. Mertua dokter Sulam kurang begitu suka dengan menantu satu-satunya ini, dia berdalih suami anaknya tidak bisa memberikan kebahagian pada keluarganya. Mertua dokter Sulam ini ingin sekali menunaikan ibadah haji, seperti keluarga dokter Muhidin. Tapi apa daya, menantunya hanyalah seorang dokter “sampah”, setidaknya itu yang dia pikirkan.

Kehidupan dokter Sulam sendiri tidak begitu kekurangan walau kadang dia meminjam uang pada tetangga untuk membayar biaya sekolah anaknya. Dia bisa saja mematok harga pada warga yang berobat ke kliniknya, tapi hatinya merasa tidak tega. Dia yakin ilmu yang dia miliki adalah angurah dari Tuhan dan dia harus menggunakannya untuk kemanfaatan bersama. Dia yakin apa yang dia lakukan adalah jalan yang benar. Meskipun dia dan keluarganya tidak dapat berangkat haji seperti yang mertuanya inginkan, tapi dia yakin Tuhan tahu apa yang dia lakukan.

bersambung …

original: Dokter Sulam (Facebook Note)
didedikasikan untuk para penggiat free and open source software.

Kommentare