Seketika terlintas ingatan masa kecil. Berlari menelusuri sawah yang hijau, sesekali berteduh dibawah rindangnya pohon, lalu canda dan tawa menambah hangatnya sinar mentari. Dan saat angin mulai menghembus, layangan-layangan terbang mewarnai sang biru. Para belalang seakan menari mengiringi merdunya melodi pita layangan. Dan saat petang menjelang, kami pulang bersama Pak Tani yang selalu menjaga taman ini tetap indah.

Dilain hari, saat angin enggan menerbangkan hiasan langit kami, bukan alasan bagi kami untuk tetap menjalani masa kanak-kanak. Bermain kelereng dengan berbagai mode, mulai dari tol-tolan sampai mode apolo. Bukan hanya kelereng, ucing-ucingan yang kami mainkan juga memiliki beberapa mode, misalnya ucing dongko dan ucing sumput. Bahkan ucing dongko dan ucing sumput -pun masih punya sub-mode, salah satunya ucing sahur yang merupakan turunan dari ucing dongko. Atau jika arenanya memadai, kita biasa bermain engkle, gobag, gatrik, kasti, atau game yang lebih terkenal, sepak bola.

Namun sekarang pak tani mulai menua. Sawah yang dulu hijau atau kuning oleh padi, kini hanya di tumbuhi rumput-rumput liar yang estetikanya jauh lebih rendah dari padang padi. Apa daya, Pak Tani sudah tidak kuat lagi menjaga keindahan sawahnya. Apa daya, para pemuda penerus Pak Tani lebih memilih menjadi babu di pabrik. Ya, duit hasil kerja di kota lebih menjanjikan dibanding hanya mencangkul dan ngangon kerbau.

Namun sekarang sudah tidak ada lagi tanah yang di gambari arena bermain engkle ataupun gobag. Tidak ada lagi anak yang ngotot saat kelerengnya tidak sengaja terhalang oleh kaki temannya. Tidak ada lagi warna-warna indah yang menghiasi langit sore. Apa daya, permainan di smartphone jauh lebih memikat ketimbang permainan kampung. Ayolah, buat apa cape-cape main ucing dongko atau ngejar-ngejar layangan, ngabisin keringat, ngotorin baju, mending main Angry bird, atau Cut the rope.

Seketika ingin rasanya kembali ke masa itu lagi. Tapi seketika itu juga tersadar bahwa hidup memang harus selalu berjalan, bahwa keadaan akan selalu berubah, bahwa kenyataan tidaklah seindah harapan.

Kommentare