“Cukup sekian tembang dari saya. Mohon maaf jika menggangu perjalanan anda”
Seperti biasa, setelah selesai menyanyikan lagu, pengamen itu mendatangi bangku penumpang satu-persatu. Lagunya memang kurang enak, tapi gue coba melihat isi kantong gue. Rupanya hanya ada uang 50k-an, uang recehnya sudah habis oleh pengamen sebelumnya. Mungkin bukan rezekinya, pikir gue.

Tibalah waktunya pengamen itu mendatangi bangku gue. Gue hanya meminta maaf ala orang India sambil tersenyum. Tiba-tiba orang disebelah mengodok kantong dan mengeluarkan sebungkus rokok. Gue kira dia mau nyalain rokok di deket gue. Rupanya tidak, orang itu ingin memberi beberapa batang rokok untuk pengamen itu. Kemudian terjadilah sesuatu yang membuat gue terkejut, si pengamen menolak rokok tersebut. “Maaf Pak, saya tidak merokok”, kata si pengamen. Dan gue yakin bukan cuma gue yang kaget, gue juga melihat raut wajah heran dari si bapak tadi.

Gue akui, memang kadang gue stereotip. Mau bagaimana lagi, kenyataannya baru kali ini gue melihat pengamen di bis kota gue yang menolak diberi rokok oleh penumpang. Jika dilihat dari sisi baik, pengamen ini tidak merokok sehingga hasil ngamennya bisa lebih dimaksimalkan untuk kepentingan yang lain. Bisa saja si pengamen itu mengambil rokok tersebut kemudian meberikan atau menjual rokok tersebut kepada temannya. Tapi mungkin si pengamen punya alasannya sendiri. Allahu a’lam.

Kommentare